Ia memiliki pengaruh yang kuat dalam merubah wajah individu, lingkungan, negara, hingga roda peradaban. Terdapat kekuatan yang dahsyat, super power dalam mentenagai seseorang untuk terus berjuang dan bertahan ditengah kesakitan.
Bilal bin Rabbah misalnya. Seorang budak yang dalam masa islamnya pertama-tama disiksa oleh majikannya yang bengis, Umayyah bin Khalaf. Saat matahari amat terik menyengat padang pasir arab, Bilal digeletakkan diatas punggungnya, dengan batu besar menindih dadanya. Atau ia dibaringkan sambi dicambuki berkali-kali sampai yang mencambuki merasa capek. Jika yang menyambuk capek, tentu bagaimana rasanya yang dicambuk? Tapi Bilal tegar, ia hanya mengulang kalimat “Ahad … Ahad … Ahad …”
Sebagian muarrikh, ahli sejarah berpendapat bahwa Bilal sebenarnya ingin membaca surat al Ikhlas, “Qul huwallahu ahad”, tapi karena tidak hafal jadi hanya mengulang-ulang, “Ahad … Ahad … dan Ahad”
Lalu saya berfikir, jika “Ahad” yang hanya satu kata saja, sebegitu kuat pengaruhnya terhadap Bilal, maka bagaimana jika ia satu ayat penuh, atau satu surat? Tentu lebih luar biasa. Lalu bagaimana jadinya lagi jika ia satu al Qur’an 30juz yang dihafal seorang huffazh? Masya Allah … Laa Haula wa Laa Quwwata iLla Billah, Allahu Akbar … !!!
Kita juga menjadi saksi sejarah. Bahwa jazirah arab yang ketika itu hanyalah tempat yang terbelakang, tertinggal kereta peradaban yang melaju kencang disisi Byzantium Romawi ataupun Kekaisaran Persia, dan tidak pula arab dianggap berpengaruh dalam roda kesejarahan. Penduduknya yang mayoritas Ummi (tidak bisa baca-tulis), dan menggembala kambing dan beternak unta. Namun pada gilirannya, mampu menguasai separuh dunia dalam masa yang relatif singkat, yakni pada masa Umar bin Khaththab. Sekira 35 tahun setelah diutusnya Nabi dan diturunkan al Quran kepada mereka.
Inilah kedahsyatan al Qur’an. Mencelup pribadi-pribadi shahabat dengan celupan ilahiyyah. Mereka berhasil menata sebuah kekhilafahan yang kekuasaannya membentang. Dengan Qur’an mereka mampu mengatur kekuasaan sebesar itu, dengan berjuta manusianya, padahal sebelumnya mereka hanya menggiring kambing, domba dan unta. dan kita tidak pernah mendengar adalah seorang pun shahabat Abu Bakar, Umar, Utsman atau Ali yang Rasul utus untuk belajar ke Romawi atau Persia. Mereka cukup dengan Qur’an.
Mereka mampu mengalahkan Romawi dan Persia yang kekuatan militer kedua negara itu nomer satu, terdepan dan pasukannya terlatih. Mereka berhasil menaklukan kedua negara dengan jumlah pasukan yang sedikit, jomplang jika di bandingkan pasukan musuh. Tapi mereka bisa. Tapi mereka berhasil. Dan tidak pernah kita dapati bahwa Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin al Jarrah, Amr bin al Ash berlatih militer bersama tentara Romawi atau pasukan Persia. Mereka cukup dengan al Quran yang telah menyatukan langkah dan menertibkan shaf mereka. Padahal beberapa saat yang lalu, mereka sibuk dengan perang saudara, dan barisan mereka tercerai-berai.
Inilah Qur’an.
Inilah Qur’an. Yang merubah karakter pribadi, keadaan suatu masyarakat dan negara dan wajah panggung peradaban.
Peradaban yang selama tidak kurang dari tiga belas abad hadir dan mempengaruhi wajah dunia.
Alangkah kita amat berhajat pada Quran untuk kembali memimpin penjayaan ummat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar